Jumat, 28 Agustus 2009

GO GREEN

Plastik Kemasan

2.1 Plastik Sebagai Bahan Kemasan

Plastik dibuat dengan cara polimerisasi yaitu menyusun dan membentuk ikatan antara bahan-bahan dasar plastik yang disebut monomer. Misalnya, plastik jenis PVC (polivinil chlorida), sesungguhnya adalah monomer dari vinil klorida. Disamping itu, di dalam plastik juga terdapat bahan non plastik yang disebut aditif yang diperlukan untuk memperbaiki sifat-sifat plastik itu sendiri, berupa zat-zat dengan berat molekul rendah, yang dapat berfungsi sebagai pewarna, antioksidan, penyerap sinar ultraviolet, anti lekat, dan masih banyak lagi (Anonim, 2006).

Kemasan plastik memiliki beberapa keunggulan yaitu sifatnya yang kuat tapi ringan, inert, tidak karatan dan bersifat termoplastis (heat seal) serta dapat diberi warna, karena inilah plastik menjadi sasaran utama bagi produsen makanan. Sedangkan kelemahan dari plastik adalah adanya zat-zat monomer dan molekul kecil lain yang terkandung dalam plastik yang dapat melakukan migrasi ke dalam bahan makanan yang dikemas. (Winarno, 1997).

Plastik tersusun dari beberapa zat aditif atau komponen non-plastik yang diperlukan untuk memperbaiki sifat - sifat fisik-kimia pada plastik yang diantaranya berfungsi sebagai pewarna, antioksidan, penyerap cahaya ultraviolet, penstabil panas, penurun viskositas, penyerap asam, pengurai peroksida, pelumas, dan lainnya. (Crompton, 1979).

Pada kemasan plastik, perubahan fisik-kimia pada wadah dan makanannya sebenarnya tidak mungkin dapat dihindari. Banyak ragam kemasan plastik untuk makanan dan minuman, beberapa contoh misalnya: polietilen, polipropilen, polistiren, poliamida, polisulfon, poliester, poliuretan, polikarbonat, polivinilklorida, polifenilinoksida, polivinilasetat, poliakrilonitril dan melamin formaldehid. Plastik diatas dapat digunakan dalam bentuk lapis tunggal, ganda maupun komposit, dengan demikian kombinasi dari berbagai ragam plastik dapat menghasilkan ratusan jenis kemasan (Crompton, 1979).

2.2 Bahaya Penggunaan Plastik

Pada makanan yang dikemas dalam kemasan plastik, adanya migrasi ini tidak dapat dicegah 100% (terutama jika plastik yang digunakan tidak cocok dengan jenis makanannya). Migrasi monomer terjadi karena dipengaruhi oleh suhu makanan atau penyimpanan dan proses pengolahannya. Semakin tinggi suhu tersebut, semakin banyak makanan yang dapat bermigrasi ke dalam makanan. Demikian pula dengan lamanya makanan tersebut disimpan. Karena, semakin lama kontak antara makanan tersebut dengan kemasan plastik, maka jumlah monomer yang bermigrasi dapat makin tinggi jumlahnya (Anonim, 2008).

Ada beberapa monomer atau aditif plastik yang perlu diwaspadai, seperti vinil klorida, akrilonitril, metacrylonitril, vinylidene klorida serta styrene. Monomer vinil klorida dan akrilonitril cukup tinggi potensinya untuk menimbulkan kanker pada manusia. Vinil klorida dapat bereaksi dengan guanin dan sitosin pada DNA. Sedangkan akrilonitril bereaksi dengan adenin. Monomer-monomer lain seperti akrilat, stirena, dan metakrilat serta senyawa-senyawa turunannya, seperti vinil asetat, polivinil klorida, kaprolaktam, formaldehida, kresol, isosianat organik, heksa metilendiamin, melamin, epodilokkloridrin, bispenol, dan akrilonitril dapat menimbulkan iritasi pada saluran pencernaan terutama mulut, tenggorokan dan lambung. Aditif plastik jenis plasticizer, stabilizer dan antioksidan dapat menjadi sumber pencemaran organoleptik yang membuat makanan berubah rasa serta aroma, dan bisa menimbulkan keracunan (Anonim, 2008).

Aditif plastik dibutil ptalat (DBP) dan dioktil ptalat (DOP) pada PVC termigrasi cukup banyak ke dalam minyak zaitun, minyak jagung, minyak biji kapas, dan minyak kedelai pada suhu 3oC selama 60 hari kontak. Jumlah aditif DBP dan DOP yang termigrasi tersebut berkisar dari 155 – 189 mg. DEHA (di-2-etil-heksil-adipat) pada PVC termigrasi ke dalam daging yang dibungkusnya, pada daging yang berkadar lemak antara 20–30%, DEHA yang termigrasi 14,5-23,5 mg tiap dm2 (desimeter persegi) pada suhu 4oC selama 72 jam (Anonim, 2006).

2.3 Alternatif Bahan Pembungkus Makanan

Plastik biodegradable adalah plastik yang dapat duraikan kembali oleh mikroorganisme secara alami menjadi senyawa yang ramah lingkungan. Biasanya plastik konvensional berbahan dasar petroleum, gas alam, atau batu bara, sedangkan plastik biodegradable terbuat dari material yang dapat diperbaharui, yaitu dari senyawa-senyawa yang terdapat dalam tanaman misalnya selulosa, kolagen, kasein, protein atau lipid yang terdapat dalam hewan. Jenis plastik biodegradable antara lain polyhidroksialkanoat (PHA) dan poli-asam amino yang berasal dari sel bakteri, polylaktida (PLA) yang merupakan modifikasi asam laktat hasil perubahan zat tepung kentang atau jagung oleh mikroorganisme, dan poliaspartat sintesis yang dapat terdegradasi. Bahan dasar plastik ini berasal dari selulosa bakteri, kitin, kitosan, atau tepung yang terkandung dalam tumbuhan, serta beberapa material plastik atau polimer lain yang terdapat di sel tumbuhan dan hewan. Dapat dibandingkan, plastik konvensional membutuhkan waktu sekitar 50 tahun agar dapat terdekomposisi alam, sementara plastik biodegradable dapat terdekomposisi 10 hingga 20 kali lebih cepat, hasil degradasi plastik ini dapat digunakan sebagai makanan hewan ternak atau sebagai pupuk kompos (Anonim, 2007).

Proses degradasi yang dilakukan oleh plastik degradable ini termasuk proses alami yang bersifat carbon neutral karena tidak melepas CO2 ke atmosfir. Jenis PLA dipakai sebagai kantong plastik, kontainer, plastik dalam dunia medis, dan plastik industri (dicampur dengan ABS). PHB merupakan jenis plastik biodegradable yang berasal dari fermentasi gula atau starch oleh beberapa jenis bakteri seperti Alcagenes eutrophus, Pseudomonas, dan Spirillum. Turunan PHB yaitu P(3HB-co-3HV) merupakan plastik yang bisa dipakai sebagai pelapis, film, kantong plastik, dan botol. Kelemahan dari proses sekarang adalah relatif mahal. (Yalun, 2008)